unique visitors counter
HeadlineKisah

Pertama Kali Naik Pesawat, Ibu Dua Anak Ini Jadi Korban JT610

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi orang yang pertama kali naik pesawat terbang, pasti ada yang merasakan bahagia dan ada juga yang takut. Sama seperti yang dirasakan Khotijah, yang begitu bahagia saat diajak sang majikan naik pesawat ke Bangka Belitung.

‘Saya besok mau jalan-jalan sama bos cantik ke Bangka’. Ya, begitu status terakhir ibu dua anak itu di Facebook, sebelum menjadi korban kecelakaan Lion Air JT610, Senin 29 Oktober lalu.

Menurut Tobiin, kakak kandung Khotijah, Tobiin menuturkan, Lion Air dengan registrasi PQ-LPQ jenis Boeing 737 MAX 8 itu merupakan pesawat yang paling pertama ditumpangi oleh Khatijah selama hidupnya. Keluarga, kata Tobiin, sudah sempat merasakan firasat yang tidak baik. Mengingat, itu pun merupakan kali pertama Khotijah menaiki pesawat

Ia bepergian ke Pangkal Pinang untuk keperluan pekerjaan. “Adik saya baru pertama naik pesawat, dia diajak bosnya ke Bangka,” kata Tobiin.

Khotijah bekerja sebagai Baby Sitter di Tangerang. Pada Senin lalu, warga Asli Tegal itu tepat baru bekerja selama seminggu. Khotijah memilih merantau bekerja sebagai baby sitter untuk biaya dua anaknya yang masih berusia tiga dan empat tahun.

Tobiin menuturkan, sementara Khotijah di Tangerang, dua anaknya diasuh oleh orang tua mereka di Tegal. Khotijah bertugas menjaga dan merawat anak majikannya yang sudah duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Sementara majikannya sedang menjalani program bayi tabung 9 bulan ke depan. Nantinya, ketika sudah melahirkan, Khotijah baru fokus mengurusi bayi. Khotijah diajak majikannya ke Pangkal Pinang untuk sementara tinggal di rumah majikannya di Bangka.

“Ayo ikut saya mau ke Bangka karena disana juga ada rumah,” kata Tobiin menirukan ucapan majikan Khotijah. Lantas, Khotijah mengiyakan ajakan tersebut.

“Ya, ternyata adik saya dan suami istri majikannya menjadi korban. Sedangkan anak majikan yang masih SD tetap tinggal dirumah. Tidak diajak” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, hingga hari ketiga penanganan musibah Lion Air JT 610, baru satu korban yang dapat diidentifikasi tim DVI Polri dari total 56 kantong jenazah. Para keluarga korban harap-harap cemas menanti nasib anggota keluarga mereka yang menjadi penumpang kala Senin pagi lalu.

Pihak Lion Air juga  telah menyerahkan bantuan kepada keluarga korban sebesar Rp 5 juta per keluarga. Bantuan tersebut adalah kebijakan langsung dari pemilik Lion Air, Rusdi Kirana.

Tobiin mengatakan, uang tersebut akan digunakan untuk biaya menggelar pengajian selama tujuh hari di kampung halaman. Sekaligus, biaya transportasi Tobiin selama dalam masa penantian evakuasi dan identifikasi.

Hari ini tepat memasuki hari evakuasi keempat. Tim DVI Polri hingga hari ketiga kemarin baru berhasil mengidentifikasi jenazah korban atas nama Jannatun Cintya Dewi, anak dari pasangan Surtiyem dan Bambang Supriyadi.

Sementara itu, proses pencarian bangkai pesawat oleh Basarnas masih terus berlanjut. KRI Rigel sempat melihat objek sepanjang 20 meter di dasar perairan Karawang. Namun, ternyata bukan bangkai pesawat. Disaat bersamaan, pencarian kotak hitam mulai menemukan titik terang.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengaku telah mendengar sendiri suara ping locator dari dua kotak hitam milik pesawat Lion Air tersebut. “Tadi baru kita menemukan suara ping dari black box (kotak hitam). Black box ada dua, jadi bunyi pingnya ada dua. Saya dengarkan langsung dengan Kabasarnas dengan menggunakan alat (milik) KNKT,” kata Hadi. (Rayyan Bahlamar)

 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close