unique visitors counter
Ekonomi

Peringkat investasi naik karena Indonesia tahan guncangan

Jakarta, MI – Geliat pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan melalui masifnya pembangunan infrastruktur membuat Indonesia tak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia.

Perlahan, Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara yang layak investasi oleh berbagai lembaga pemeringkat internasional.

Pada awal tahun Moody’s Investors Service menghadiahi Indonesia dengan revisi Outlook Sovereign Credit Rating Indonesia dari Stable menjadi Positive.

Kemudian pada pertengahan tahun S&P Global Ratings, untuk pertama kalinya dalam dua periode pemerintahan, mengubah peringkat utang Indonesia dari BB+ ke BBB-.

Kini giliran Fitch Rating memberi kado akhir tahun serupa untuk Indonesia. Lewat rilisnya, Rabu (20/12/2017), Fitch menaikkan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing dan lokal dari BBB- ke BBB dengan outlook Stable.

Perbaikan peringkat ini menempatkan Indonesia setara dengan Filipina dan Portugal, dua negara yang juga menerima peringkat sama bulan ini.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo bahkan mengatakan, perbaikan peringkat utang oleh Fitch ini adalah raihan tertinggi yang pernah dicapai Indonesia sejak 1995.

Keberhasilan ini, menurut Agus, mencerminkan keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ada beberapa alasan mengapa Fitch menaikkan peringkat Indonesia, setelah sekian lama dibiarkan terpuruk. Menurut perusahaan yang bermarkas di New York, Amerika Serikat itu, menilai Indonesia cukup kuat bertahan dalam guncangan eksternal yang terus mendera dalam beberapa tahun terakhir.

Implementasinya, sambung rilis itu, berupa kebijakan makroekonomi yang konsisten diarahkan untuk menjaga stabilitas.

“Kebijakan nilai tukar yang lebih fleksibel sejak pertengahan 2013 telah membuat cadangan devisa membengkak menjadi US $126 miliar pada November 2017,” tulis rilis yang dikutip oleh Indonesia InvestmentsKamis (21/12/2017).

Selain itu, pemerintah juga dinilai berhasil membuat asumsi yang realistis pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam beberapa tahun ke belakang. Begitu pula dengan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang tetap kuat dibanding dengan negara-negara lain dengan peringkat BBB.

Menurut Fitch, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara dengan peringkat BBB adalah 3,2 persen dengan periode lima tahun. Indonesia, berhasil membuat rata-rata pertumbuhan yang stabil dalam periode yang dimaksud, yakni di sekitar angka 5,1 persen.

Fitch bahkan meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat hingga 5,4 persen pada 2018 dan 5,5 persen pada 2019 (year-on-year/yoy). Keyakinan itu mendasar pada proyeksi peningkatan investasi yang didukung dengan meningkatnya belanja infrastruktur publik, rendahnya suku bunga, dan pelaksanaan reformasi birokrasi.

Tak hanya itu saja, tingkat utang Indonesia (28, persen terhadap PDB)–yang beberapa pihak mengklaim sudah terlalu banyak–dinilai masih berada di bawah standar rerata utang negara BBB lainnya, yakni 41,1 persen dari PDB.

Meski dinilai cukup tahan guncangan ekonomi, Indonesia masih diproyeksi menerima ancaman dari normalisasi kebijakan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Namun peneliti PT Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, dalam Bloomberg meyakini, kenaikan peringkat investasi Indonesia ini mampu menahan tekanan eksternal dan tetap membuat imbal hasil (yields) tetap rendah.

“Banyak hal baik menanti Indonesia, kita juga melihat pertumbuhan ekonomi bergerak saat tren inflasi menurun dengan volatilitas rendah,” sebutnya.

Dari semua itu, Fitch juga mewanti-wanti Indonesia untuk berhati-hati menyambut kebisingan politik jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 2018 dan pemilihan presiden (pilpres) 2019. Menurut Fitch, momentum politik itu bisa menjadi sentimen terhadap pasar modal domestik dan global.

Indonesia, saran Fitch, tetap bisa bertahan jika dapat memanfaatkan momentum perdagangan dan kestabilan harga komoditas, dan juga belanja pemerintah di sektor infrastruktur yang semakin kencang.

(HA)

Tags

Related Articles

Close