unique visitors counter
Gaya HidupHeadline

Ternyata Ini Pemicu Kekerasan Dalam Rumah Tangga Selama Ini

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masih ingat dengan kasus seorang bapak yang melalukan pembunuhan satu keluarga di Palembang beberapa waktu lalu?. Tragedi itu bermula dari kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menanggapi kasus itu, Psikolog Elizabeth T. Santosa mengatakan kasus KDRT diidentifikasi dipicu oleh stres. “Ketidakbahagiaan hubungan suami-istri. Itu stimulus awalnya. (Tetapi) sebenarnya dari dalam dirinya sendiri banyak trauma yang belum selesai,” kata wanita yang akrab disapa Lizzie ini, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia melihat banyaknya kasus KDRT ditimbulkan dari hubungan keluarga atau lingkungan sekitar (domestic affairs dan relationship). “Karena pasangan kita adalah yang paling kenal siapa kita. Pasangan tahu apa yang membuat kita marah,” ujarnya.

Kemarahan ini memicu rasa stres. Akhirnya, pasangan bisa melakukan kekerasan dalam rumah tangga.

Rasa stres ini, kata Lizzie, sebenarnya adalah reaksi tubuh dan pikiran terhadap tantangan dan tuntutan sehari-hari. Ia juga memaparkan faktor penyebab stres yang dialami oleh manusia.

Pertama adalah faktor kondisi biologis. Stres dapat disebabkan karena mengalami sakit atau kecelakaan.

Kedua, yakni faktor lingkungan, seperti kurangnya pendidikan dan memiliki masalah keuangan. Hidup di lingkungan berpolusi dan tidak sehat juga dapat menyebabkan stres.

Ekspektasi yang dipikirkan oleh manusia menjadi faktor ketiga penyebab stres. Misalnya, kata Lizzie, seorang karyawan berekspektasi pulang kantor lebih cepat. Namun, ternyata harus lembur karena banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.

“Faktor-faktor selanjutnya adalah cara berpikir yang salah, pola hidup yang tidak sehat (seperti) penggunaan obat-obatan terlarang, alkohol, kurang beraktivitas, juga adanya dinamika kehidupan,” ujarnya.

Ada pula kondisi stres yang bisa menyebabkan trauma. Misalnya, pernah tertimpa bencana alam atau menjadi korban pelecehan dalam hidupnya.

Menghilangkan Stres Dengan TRE

Stres dan trauma yang tidak diintervensi bisa memiliki dampak jangka panjang bagi seseorang. Founder TRE Indonesia Hindra Gunawan mengungkapkan stres yang berkelanjutan dan tidak ditanggulangi berpeluang besar menimbulkan berbagai penyakit psikomatis. Penyakit itu di antaranya susah tidur, asam lambung tinggi, dan serangan panik.

Berbagai sakit fisik dan kondisi emosi yang tidak stabil dapat menimbulkan rasa frustasi dan putus asa. Kondisi itu, menurutnya, dapat dilepaskan melalui teknik Tension and Trauma Releasing Exercises (TRE).

Teknik ini melepaskan stres dan ketegangan pada tubuh tanpa menceritakan masalah yang dialami. TRE lebih fokus pada pemanfaatan kecerdasan tubuh manusia untuk menyembuhkan diri.

TRE terdiri dari enam gerakan peregangan tubuh yang membuat ketegangan pada badan atau otot menjadi lepas dengan suatu proses getaran. Getaran ini terjadi secara otomatis dan alami, serta dikendalikan sendiri oleh tubuh. Kejadian ini disebut juga neurogenic muscle tremors.

Hendri mengatakan ada tiga kemungkinan yang terjadi saat melakukan teknik TRE. Pertama, orang tersebut hanya merasakan getaran fisik saja tanpa emosi atau mengingat kejadian tertentu.

Kedua, mungkin ada emosi yang muncul pada saat TRE. Seseorang ini kemudian akan menangis.

Ketiga, kemungkinan ada emosi sekaligus mengingat kejadian masa lalu. “Yang dilakukan TRE ini, dia melepaskan emosi (yang) melekat di kejadian tersebut,” ujar Hindra.

Selain itu, Hindra menjelaskan mengapa tubuh dan pikiran tetap bisa mengingat trauma. Kejadian-kejadian yang masuk dalam pikiran manusia tertimbun dalam memori otak, termasuk dalam sel-sel tubuh.

“Ketika terjadi getaran (saat TRE) pada tubuh, ada emosi dan masuk ke hipotalamus yang merupakan pusat data. Kemudian muncul ingatan kejadian masa lalu,” katanya.

TRE Indonesia sebagai wadah pelatihan yang bertujuan melepas ketegangan, stres, dan trauma melalui kecerdasan tubuh. TRE Indonesia telah memiliki 385 angkatan dan lebih dari 8.000 orang telah merasakan manfaatnya. Workshop TRE juga telah tersebar di 35 kota di Indonesia.

Refleksi Pikiran Pada Tubuh

Tubuh dan pikiran manusia saling berhubungan satu sama lain. Tanpa disadari apa yang dipikirkan seseorang terefleksi pada tubuhnya. Misalnya,seseorang yang gugup, tangan atau kakinya pasti akan bergetar. Pada saat ketakutan atau rasa gugup pergi, maka badan akan terasa lega dan getaran itu menghilang.

Hal inilah yang membuat penemu teknik Tension and Trauma Releasing Exercises (TRE) David Berceli mengobservasi bagaimana mekanisme ini terjadi. “Jadi saya mulai mengeksplorasi apa manfaat dari getaran tubuh tersebut,” ujar Berceli.

Berceli mengungkapkan proses TRE terdiri dari enam gerakan peregangan tubuh yang membuat ketegangan pada tubuh atau otot menjadi lepas dengan suatu proses getaran. Getaran ini terjadi secara otomatis dan alami, serta dikendalikan sendiri oleh tubuh. Kejadian ini disebut juga neurogenic muscle tremors.

Pria asal Amerika Serikat ini mencontohkan satu gerakan TRE. Awalnya, ia menginstruksikan peserta berbaring dengan posisi telapak kaki saling menempel satu sama lain.

Kemudian Berceli menginstruksikan peserta tersebut untuk mengangkat sedikit lututnya ke arah atas. Terlihat sudah ada getaran sedikit di bagian kaki peserta.

Selanjutnya, masih dalam keadaan berbaring, peserta menekuk kakinya. Posisi telapak kaki menempel di lantai dan jari-jari kaki menghadap ke depan. Berceli lalu mengaplikasikan gerakan TRE di leher di peserta.

Getaran yang ada di kaki mulai masuk ke bagian pelvis hingga perut peserta. Getaran-getaran alami ini bisa melepaskan ketegangan, stres, dan trauma yang dimiliki oleh seseorang. Dengan TRE, ujar Berceli, seseorang bisa melewati penyembuhan trauma lebih cepat daripada dengan metode lain.

TRE dapat dilakukan di manapun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun selama merasa nyaman. Kegiatan ini bisa dilakukan oleh anak usia lima tahun hingga orang dewasa berusia 81 tahun. Setiap orang yang melakukan TRE juga memiliki getaran dan perasaan yang berbeda.

“Terkadang saat getaran terjadi, ada emosi yang keluar. Ada yang merasa ingin menangis, ada yang tidak. Jika merasa tidak nyaman, silakan setop dulu,” katanya.

Menangis saat TRE itu bisa menjadi tanda masih ada masalah yang belum terselesaikan sehingga tubuh mengirimkan sinyal rasa sakit dan emosi. Itulah sebabnya Berceli menyarankan berhenti sejenak jika merasa tidak nyaman.

Getaran yang kencang bisa jadi seseorang tersebut pernah mengalami trauma di masa lalu. Sedangkan getaran kecil menandakan tubuh mengalami stres umum. (Puji Christianto)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close